Monday, February 6, 2017

Batam (Part 1)

Akhir Januari 2017 kemarin saya berkesempatan mengunjungi Batam. Kebetulan pasangan saya lagi dinas disana lumayan lama, jadilah saya ada alasan untuk pergi ke sana. Modusnya sih nengok si pasangan saya ini, padahal niatnya karena pengen jalan2 aja disana, apalagi saya sendiri juga belum pernah mengunjungi Batam :p . Sebelum berangkat banyak yang bilang ke saya kalau di Batam ga ada apa2, mending sekalian aja ke Singapura. Biar dibilangin kaya gitu, buat saya tetep aja rasanya ga afdol kalau ga datang untuk lihat dengan mata kepala sendiri. Untuk harga tiket pesawat Jakarta - Batam juga relatif murah. Walaupun saya baru beli tiket seminggu sebelum berangkat, saya dapat tiket dengan harga Rp. 900.000 untuk tiket PP menggunakan maskapai Sriwijaya untuk penerbangan yang ga terlalu pagi. Lumayan banget kan :D

Sampai di Bandara Hang Nadim Batam, kesan pertama saya terhadap bandaranya adalah jadul :| . Padahal sebelumnya saya membayangkan Batam adalah kota yang sangat maju dan modern karena letaknya yang dekat dengan Singapura. Ternyata baru menginjakkan kaki di bandara saya udah harus me-reset ekspektasi saya. Hehehe... Disaat bandara2 di kota lain pada berbenah dengan bangunan baru yang megah dan modern, di bandara Hang Nadim ini masih terkesan bangunan lama. Pas saya ke toilet di bagian kedatangan, toiletnya masih menggunakan kloset jongkok, lengkap dengan kran dan ember. Untuk cebok saya harus menggunakan gayung yang lebar banget kaya baskom. Saking lebarnya itu gayung dan gagangnya yang mungil, mau cebok aja rasanya susah banget karena ga kena2 T_T .

Bandara Hang Nadim Batam, dari liputan6.com

Dari bandara saya dijemput pasangan saya untuk kemudian makan siang Mie Tarempa di daerah Sei Panas. Mie tarempa adalah salah satu kuliner khas Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), dimana Batam merupakan bagian dari Kepri. Saya yang emang udah lapar langsung semangat '45 untuk makan mie tarempa. Tanpa banyak basa basi karena lapar mengalahkan rindu, langsung kami cuss ke tempat mie tarempa ini. Sepanjang perjalanan dari bandara, kami sempat membahas suasana di Batam. Entah kenapa feeling yang kami dapat ko serasa lagi di Kalimantan ya. Kontur jalan, penataan, dan tanahnya yang didominasi tanah merah ini rasanya lebih mirip dengan suasana di Kalimantan daripada ketika saya trip di Sumatera Utara.
Sayangnya sampai di tempat tujuan saya gagal makan mie tarempa karena ternyata tempatnya tutup. Mungkin karena saya datang pas hari raya imlek, dan kebetulan katanya yang jual emang chinese. Ujung2nya saya malah diajak makan di Warung Sunda Bu Joko di dekat Batam Center. Awalnya saya agak ragu juga sih, masa di Batam makannya di rumah makan Sunda yang namanya jawa. Tapi.... Ternyata rasanya ga mengecewakan dan harganya juga menyenangkan XD . Bolehlah buat yang lagi di Batam tapi pengen makan masakan Sunda :D

Selesai makan kami langsung menuju destinasi yang pertama, yaitu Mesjid Raya Batam di daerah Batam Center. Masjid ini cukup unik dengan kubah yang bentuknya seperti piramida. Selain masjidnya yang besar, pelatarannya juga cukup luas dan udah dilapisi paving block biar kalau kebagian sholat di luar ga becek2an lagi. Uniknya juga, di pelataran masjid juga berjejer kran tempat wudhu yang kalau dilihat dari atas bentuknya menyerupai bintang. Secara keseluruhan arsitektur masjid ini unik dan menarik. Sayangnya beberapa bagian dari area ini kurang terawat. Kalau ngeliat ke arah masjid sih kelihatannya rapi dan bersih, tapi begitu ngeliat keluar area masjid, mulai deh kelihatan banyak rumput liar yang ga dipotong, genangan air yang ga ngalir kemana2, dan paving block yang pecah dibiarin gitu aja.

Masjid Raya Batam

Tempat wudhu di Masjid Raya Batam

Dari area masjid kita bisa lihat juga landmark ala-ala Hollywood dengan tulisan Welcome To Batam yang ada diatas bukit. Karena pengen ngeliat lebih jelas, kami memutuskan jalan kaki ke arah landmark tersebut, ga bener2 sampai manjat segala sih, yang penting bisa ngeliat dengan lebih jelas. Ternyata depan landmark tersebut ada lapangan luas yang di tengahnya ada bangunan setengah jadi yang terbengkalai. Lapangan tersebut kayanya jadi salah satu tempat nongkrong anak muda di sana, dan juga tempat main bola, bahkan ada juga yang latihan nyetir.

Landmark "Welcome To Batam" yang sering dijadiin tempat foto2.

Dari area masjid kami nyebrang ke Alun-alun Batam. Gapura masuk area alun-alun dari arah Masjid Raya bagus dan megah. Awalnya saya kira ini Masjid karena gerbang masuknya yang mirip dengan menara masjid. Bahkan gapura dari arah depan alun-alun ini lebih megah dan lebih mirip masjid. Di area yang bersebrangan dengan Masjid Raya Batam ini di dalamnya ada kantor pemerintahan Kota Batam dan Dataran Engku Puteri. Kantor pemerintahannya bagus dan megah dengan arsitektur yang menarik. Di tengah dataran Engku Puteri terdapat lapangan luas yang dilapisi paving block. Di bagian sampingnya terdapat taman2 kecil yang mengelilingi lapangan luas tersebut. Di bagian taman2nya banyak dijadikan tempat bersantai dan olahraga oleh warga sekitar. Untungnya pas kami ke sana cuacanya lagi berawan, soalnya kalau ga, kebayang deh panasnya, terutama di tengah lapangan yang sama sekali ga ada penutupnya.


Gapura Samping Dataran Engku Puteri

Kantor Pemerintahan Kota Batam

Gapura utama & Dataran Engku Puteri

Dari alun-alun yang terletak di daerah Batam Center, destinasi terakhir kami hari ini adalah ke salah satu mall terbesar di Batam, yaitu Mega Mall Batam Centre. Sebenarnya sih jaraknya selemparan kancut doang dari Dataran Engku Puteri, tapi karena kami ga pakai kancut bawa mobil, jadi sekalianlah kami pindah parkir dan sok2 jadi horang kaya *pake H*, jarak dekat tapi naik mobil full AC.
Nyari parkir di Mega Mall Batam Centre di malam minggu ternyata butuh kesabaran. Mungkin karena Mega Mall ini salah satu tempat yang nge-hitz di Batam, ditambah liburan imlek dan banyak tempat makan yang tutup, jadinya mungkin satu Batam ngumpul semua di sini. Setelah berusaha nyari parkir sambil berdoa, akhirnya kami dapat tempat di area parkir paling atas. Lumayanlah.
Mega mall miriplah sama mall2 pada umumnya. Di sini pasangan saya menyempatkan diri untuk potong rambut biar gantengan dikit *dikit*. O ya, bedanya mall ini dengan mall lain adalah di sini banyak bertebaran money changer. Mungkin karena lokasinya yang dekat (nyambung malah) dengan Batam Centre International Ferry Terminal. Di sini saya juga menyempatkan untuk menukar mata uang ke dolar Singapura sekalian beli tiket untuk nyebrang ke Singapura. FYI aja, kalau mau beli tiket ferry ke Singapura, jangan beli di pelabuhan karena harganya lebih mahal. Belilah di bandara atau di money changer yang ada di mall-mall.

Kelar urusan dompet, lanjut urusan perut. Konon katanya orang Singapura itu kalau ke Indonesia (atau yang nyebrang ke Batam khususnya) doyannya makan di A&W, sama kaya dulu orang Indonesia ke Singapura / Malaysia beli Subway. Jadilah pasangan saya ngajak makan ala2 orang Singapura : Makan di A&W. Saya sih ayo2 aja, apalagi kalau ditraktir. Hehehe... :p
Urusan perut selesai, kami memutuskan untuk ke daerah Nagoya, kebetulan kost-nya pasangan saya di daerah Nagoya. Sebelum sampai di kost-an kami sempat nongkrong di warung2 pinggir jalan. Jadi katanya orang Batam itu senang nongkrong, makanya tempat tongkrongan tersebar dimana2. Model tongkrongannya juga ala2 Singapura gitu, dimana depan toko atau kafe tersebut berjejer kursi dan meja. Jadi kalau di Jawa kan depan toko atau kafe dijadiin tempat parkir, kalau di Batam ini dijadiin tempat nongkrong. Tempat duduk depan kafe tersebut ada yang atasnya dikasih terpal, ada juga yang model terbuka alias misbar (gerimis bubar). Di sini kami duduk2 sambil pasangan saya menyeruput STMJ dan nonton warga sekitar main kembang api.


Suasana tongkrongan daerah Nagoya

Beres nongkrong, kami pulang menuju kost-an pasangan saya di Perumahan Bukit Mas, yang lokasinya persis disamping Nagoya IT Centre. Judulnya sih kost eksekutif, tapi namanya kost2an, tetap bikin saya ngerasa jadi mahasiswa lagi. Umur boleh nambah tua, tapi perasaan harus tetep muda :D

To be continued...

Tuesday, October 25, 2016

Apa Kabar Masa Lalu?

Minggu lalu saya tiba2 kangen dengan masa lalu saya yang suka ngumpulin action figure. Maklumlah, pasangan saya yang sekarang kurang setuju kalau saya ngabisin terlalu banyak uang hanya untuk mainan. Jadi untuk menghibur diri saya suka "jalan2" di forum2 di dunia maya yang ada ngebahas mainan. Ceritanya pas saya lagi "jalan2" di kaskus, saya nemuin salah satu thread yang ngebahas tentang seller2 online yang bermasalah. Dari sekian banyak nama, ada satu nama yang cukup menarik perhatian saya, bisa dibilang saya cukup familiar dengan nama tersebut, setidaknya pernah familiar. Yup, disitu tertulis nama mantan pacar saya jaman masih sekolah, dengan huruf yang ukurannya cukup besar, di-bold, pake huruf kapital, dan pinggirannya dihiasi bingkai warna merah yang mencolok :|

Jadi emang si mantan saya ini dulu dikenal sebagai bad boy yang pernah ketahuan bolos dan beberapa kali terlibat tawuran sama sekolah lain yang jadi musuh bebuyutan sekolah kami. Walaupun di tahun2 terakhir menjelang kelulusan dia jadi lebih kalem, tapi emang pada dasarnya dia bukan tipe orang yang concern banget dengan pendidikan sih. 
Setelah lulus saya lama ga denger kabarnya lagi, sampai tiba2 pas saya kuliah tahun ketiga saya denger gosip kalau dia MBA alias Married by accident. Tapi waktu itu saya ga yakin itu beneran apa cuma gosip, kan namanya bad boy sering jadi sasaran gosip2 ga jelas. Lagian saya aja boro2 mikirin nikah, yang ada di pikiran saya cuma gimana caranya dengan sisa uang jajan yang seadanya saya bisa upgrade komputer saya supaya bisa main game dengan lebih mumpuni, trus masa iya dia udah beranak aja :\

Nah gara2 saya baca namanya yang jadi tersangka penipuan online inilah, saya yang dulu ga tertarik sama kabar mantan2, tiba2 jadi kepo kabar terbaru mereka. Yang pertama saya kepoin udah pasti mantan pacar saya yang jadi tersangka ini. Dari facebook-nya keliatan kalau dia emang usaha jualan action figure, dan di timeline-nya udah dipenuhi cacian dari pelanggan2nya yang merasa ditipu. Agak miris dan shock juga sih bacanya. Miris karena dia adalah orang yang dulu pernah dekat dan berbagi gombal monyet, shock karena ya kaget aja sekarang dia udah jadi orang terkenal dengan caranya sendiri :|
Saking keponya sama kehidupan dia, saya bela2in scroll sampe 5 tahun kebelakang. Dari situ saya juga jadi tau kalau ternyata gosip dia yang MBA itu bener. Malah anaknya sekarang udah besar, udah mau masuk SD. Sayangnya keliatannya dia udah pisah sama istrinya.

Dari situ hasrat kepo saya belum berakhir. Saya mulai penasaran sama kehidupan mantan saya yang lain, baik mantan pacar atau mantan TTM. Walaupun ga se-dramatis si mantan pacar saya yang sebelumnya, tapi jadi saya tau cerita kehidupan mereka. Kalau inget jaman masih dekat dulu dengan cita2nya masing2, ada yang akhirnya mendalami akademi dan berkecimpung di dalamnya, ada yang menyerah dengan cita2nya jadi wirausaha dan akhirnya kerja kantoran sampai jadi GM, ada yang gitu2 aja, ada juga yang ga eksis di sosmed sampai susah dikepoin, daaann lain2.
Saya juga sempet membandingkan kehidupan saya sekarang dengan kehidupan mantan, terutama yang mantan pacar. Saya bersyukur sih saya bisa ngebangun kehidupan saya lebih baik walaupun tanpa mereka, saya bisa dapat kerjaan yang mapan, dan sekarang saya dapat pasangan yang lebih bertanggung jawab terhadap saya dan hidupnya sendiri. Mungkin ini gengsi saya karena dari dulu saya selalu ada di pihak yang diputusin. Tapi apapun itu, saya menyimpulkan gimana nasib orang bisa berubah, dan perjalanan saya yang patah hati berkali2 itu ada hikmahnya. Saya juga lebih mensyukuri apa yang saya punya sekarang. Jadi buat teman2 yang patah hati atau baru diputusin, jangan berkecil hati, mungkin itu adalah jalan untuk sesuatu yang lebih baik ;)

Tuesday, August 30, 2016

Main Game LAN di Laptop Dengan Windows 8 / 10

Waktu pertama kali saya beli laptop baru dengan OS Window 8, saya langsung ga sabar pengen cepat2 pulang trus main game Left for Dead 2 nge-LAN (Local Area Network) sama pasangan saya. Malah bisa dibilang alasan utama saya nabung beli laptop emang untuk main game, soalnya kalau untuk kerja kan udah dapat komputer dari kantor. Saya yang dari toko udah semangat '45 langsung copy game dari harddisk external ke laptop saya & pasangan saya. Setelah dites, game di masing2 laptop udah jalan. Tapi namanya seri Left for Dead mana seru kalau dimainin masing2, jadilah saya nyoba untuk nyambungin 2 laptop ini dengan koneksi LAN melalui sinyal wi-fi
Saya yang sebelumnya familiar sama Windows 7 pede aja langsung nyoba untuk bikin jaringan LAN. Ternyata untuk windows 8 ini selain tampilan atau user interface yang beda, juga ada sedikit beda settingan. Kalau di Windows 7 untuk bikin koneksi LAN cukup gampang karena udah ada menu settingannya di Control Panel. Kita tinggal buka Control Panel > Network and Internet > Network and Sharing Center. Dari sini kita tinggal klik SetUp New Connection or Network > SetUp Wireless adhoc (computer to computer) network. Udah deh, disini tinggal diisi pengaturannya.Sedangkan di Windows 8 ini pas buka SetUp New Connection or Network saya malah ga nemuin pilihan untuk SetUp Wireless Adhoc. Nah lo..

Saya yang udah ngebet banget pengen nikah main game merasa ga terima dengan kegagalan saya. Akhirnya saya coba2 sambil browsing2 gimana cara ngakalin untuk bikin koneksi LAN di Windows 8. pokonya gimanapun caranya supaya saya bisa menjalin kebersamaan dengan pasangan saya...di dalam game... Pasangan saya udah mewanti2 supaya laptopnya yang udah saya sandera dari sore jangan dijadiin kelinci percobaan. Dia ga ikhlas kalau Windows-nya yang dibeli dengan tabungan seumur hidup error begitu saja. Terpaksalah laptop saya yang baru berumur 2 jam dari toko langsung dijadiin bahan praktikum. Saya sih santai aja kalau Windows saya error, yang penting DVD Windowsnya masih ada. Lagipula kalau OS nya original malah lebih tenang karena kalau ada apa2 tinggal di-recovery aja :p .
Waktu itu masih jarang ada yang bahas untuk jaringan LAN di Windows 8 karena memang Windows seri ini belum lama rilis. Kalaupun ada yang bahas panjang lebar, saya harus pegang kamus karena yang bahas masih banyaknya di forum luar. Tapi dari sini saya jadi tau kalau fitur LAN wireless di Windows 8 ini masih bisa dipakai ko, cuma emang harus disetting manual. Akhirnya setelah entah-berapa-jam browsing2 dan ngotak-ngatik, saya berhasil juga bikin koneksi LAN melalui Command Prompt (CMD). Caranya adalah sebagai berikut :

Membuat Jaringan LAN (Wireless) di Windows 8 / 10 :

1. Buka CMD > klik kanan > Run as Administrator



2. Untuk bikin jaringan, ketik : 
netsh wlan set hostednetwork mode=allow ssid=namajaringan key=password > Enter



Notes : ssid itu untuk id/username, key itu untuk password. Contoh diatas menggunakan tinytuna sebagai id/username, dan adventure123 sebagai password. Bisa diisi sesuka hati, asal diinget2 supaya laptop/PC lain bisa connect

3. Untuk memulai jaringan, ketik :
netsh wlan start hostednetwork > Enter



4. Setelah itu di laptop lain bakalan muncul di pilihan wi-fi untuk id/username yang udah kita bikin. Tinggal klik, masukin password, trus connect deh. Kalau pakai contoh diatas, di pilihan untuk wi-fi bakalan muncul pilihan jaringan dengan nama tinytuna.

5. Kalau udah selesai, untuk menghentikkan jaringan, ketik :
netsh wlan stop hostednetwork > Enter



6. Close CMD
Untuk berikut2nya kalau laptopnya pernah di-connect dan masih nyimpen password-nya, kalau mau disambungin lagi ga perlu mulai dari awal, cukup mulai dari langkah nomor 3 ;)


Mengecek Support Adhoc

Kalau misalnya penasaran nih apakah laptop kita support untuk bikin jaringan LAN Adhoc, bisa dengan mengetik :
netsh wlan show drivers > Enter (kalau support akan tertulis "Yes")




Begitulah cara bikin jaringan LAN di laptop untuk Windows 8. Awalnya saya belajar waktu saya pertama pakai Windows 8. Pas kemarin dapat tawaran untuk free update ke Windows 10, ternyata saya masih belum menemukan settingan Adhoc LAN kaya di Windows 7, jadi saya pakai cara yang sama kaya di Windows 8.
Kalau sekarang teman2 browsing, saya yakin udah banyak nemuin tutorial kaya gini. Saya posting karena inget sama kejadian waktu saya baru beli laptop ini. Selain itu juga karena kemarin ada temen saya yang nanya caranya bikin jaringan LAN di laptopnya yang pakai Windows 8, dan saya bilang jawabannya bakalan diposting di blog saya. Lumayan kan, sekalian promosi :p

Tuesday, August 9, 2016

Roadshow Lebaran (Part 2)

Setelah Lumajang kami lanjut perjalanan ke Jember. Selama ini kalau denger nama Jember saya langsung terngiang2 sama Anang Hermansyah, atau Ponari, bocah yang katanya bisa menyembuhkan dengan batu ajaibnya. Kebetulan teman satu kantor saya dulu juga ada yang berasal dari Jember, jadi saya lumayan sering denger nama Jember walaupun belum pernah kesana. Saya selalu ngebayangin Jember adalah salah satu desa kecil di Jawa Timur yang masih tradisional banget. Setelah sampai disana dan sedikit jalan2 di daerah alun2, ternyata bayangan saya selama ini soal Jember salah besar! Jember yang awalnya saya kira sebuah desa kecil ini ternyata adalah salah satu kota yang cukup maju di Jawa Timur. Kehidupannya udah modern dan tata kota yang menurut saya keren juga, alun2nya juga bagus dan ramai walaupun udah malam. "Kebesaran" kota ini cukuplah untuk bikin saya ngerasa bersalah karena udah under estimate Jember.
Setelah liat2 pemandangan kota, akhirnya sekitar jam 22.30 malam kami sampai di salah satu rumah saudara Jason. Kebetulan kami udah di-booking-kan hotel di dekat situ di daerah Sumbersari, jadi ga lama kami langsung meluncur ke hotel Seven Dream untuk istirahat. Hotelnya lumayan bersih dan nyaman, dengan nuansa islami. Oya karena ini hotel keluarga yang islami, jadi pasutri yang KTP-nya masih single atau beda alamat sebaiknya bawa buku nikah, untuk yang statusnya meragukan langsung aja ambil 2 kamar atau pindah hotel lain daripada jadi drama :p
Anyway, dari resepsionis kita akan melewati taman besar yang di sekelilingnya ada kamar2. Kami kebagian kamar di lantai 2 samping mushola. Kamarnya cukup standar, kurang bersih sih kalau menurut saya, masih ada debu2 halus yang ga kasat mata. Kamar mandinya ga terlalu besar dengan shower yang ada air hangatnya (atau bisa jadi itu air dingin yang berasa hangat saking gerahnya). Untuk hiburan ada TV flat dengan channel2 nasional. Sarapannya juga standar banget, roti dengan pilihan selai lokal, nasi goreng dengan telur mata sapi, teh, dan kopi. Yah lumayanlah untuk kamar seharga Rp 300.000/malam. Walaupun ga berkesan banget, tapi ga mengecewakan juga.


Seven Dream Hotel, Jember; dari booking.com

Selesai sarapan dan beres2, kami langsung check out lalu menuju parkiran. Di parkiran pas mau masukkin barang, saya sempat mengalami kejadian memalukan dimana saya salah mobil. Duh, udah modelnya sama, warnanya mirip, parkirnya deketan lagi. Pantesan ko mau buka pintu ga bisa aja... Begitu sadar salah mobil, yang saya lakuin pertama kali adalah liat kiri-kanan, memastikan seberapa rusak image saya. Untungnya cuma satu orang security yang bengong ngeliatin saya. Dengan muka tembok dan gaya sok anggun saya jalan bawa tas masuk ke mobil yang bener, walaupun di dalam mobil saya diketawain abis2an T^T . Dari hotel kami menuju rumah saudara Jason yang lain. Lagi2 disuguhi petis. Untungnya ada menu khas Lebaran lain yaitu gule kambing, langsung saya ambil gulenya dengan porsi tau diri. 
Menjelang siang kami lanjut perjalanan ke Bondowoso. Sebenarnya tujuan utamanya adalah Situbondo, tapi kami lewat Bondowoso sekalian jalan2. Bondowoso cukup bersih dan rapi menurut saya. Entah karena saya cuma lewat jalan2 besarnya, atau emang semuanya tertata dengan baik. Di Bondowoso kami sempat lewatin Hotel The Palm yang katanya salah satu hotel paling hitzz disana. Kami juga sempat lewatin Monumen Gerbong Maut. Konon katanya gerbong maut ini diambil dari gerbong kereta yang mengangkut pejuang Indonesia yang menjadi tahanan Belanda dari Bondowoso menuju Surabaya. Sekitar 30 orang-an tahanan diangkut dengan gerbong yang terbuat dari baja dan ga ada ventilasinya sama sekali. Akhirnya sampai di tempat tujuan tersebut para tahanan meninggal karena lemas dan kepanasan. Ih, merinding deh dengar ceritanya..

Monumen Gerbong Maut, dari Bondowosocity.wordpress

Dari Bondowoso kami lanjut ke Situbondo. Di Situbondo kami keliling2 sambil napak tilas rumah masa kecilnya Jason, rumah dinas bapaknya waktu beliau masih menjabat disana yang sekarang udah berubah fungsi jadi pusat penanggulangan bencana. Untuk ukuran sebuah kabupaten, jalan2 protokolnya lebar dan rapi. Dari Situbondo kami langsung menuju Probolinggo lewat Pantai Pasir Putih Situbondo yang katanya cukup bagus. Sayangnya karena hari mulai sore, kami cuma bisa liat pantainya dari jalan aja dan ga sempat mampir untuk menikmati pasir putihnya. Semoga kalau nanti kapan2 saya ke Jawa Timur lagi, saya bisa main2 ke pantai ini :D .
Dari pantai ini rute berikutnya menuju arah Probolinggo adalah lewat Paiton. Daerah Paiton yang berada di tepi pantura ini terkenal dengan kompleks pembangkit listriknya. Saking besar dan luasnya kompleks pembangkit listrik ini, dari jauh mirip kota sendiri. Paling pas untuk lewat daerah sini adalah di malam hari karena lampu2 dari pembangkit listriknya keren banget, lampu2 dan cerobongnya sekilas mirip kapal pesiar yang mengingatkan saya dengan Titanic :D *terngiang lagu my heart will go on-nya Celine Dion sebagai backsound*.

Pembangkit listrik Paiton, dari jawapower.co.id

Dari Paiton kami mampir Probolinggo lagi untuk makan malam, sebelum akhirnya kembali ke Malang sekalian (rencananya sih) packing untuk pulang ke Jakarta. Kenyataannya sampai di Malang kami langsung tidur, sambil berharap besok pagi masih sempat packing *kebiasaan prokrastinasi* . Tapi kapan sih liburan bisa on-time? Rencana bangun jam 6 pagi, jam 8 baru bangun. Rencana berangkat ke bandara jam 9, jam 10 baru berangkat. Padahal ya, saya flight jam 10.50 WIB, gerbang check-in ditutup jam 10.30 WIB, dan jarak dari rumah di Malang ke bandara juga ga deket2 amat, setengah jamlah normalnya. Sambil dag-dig-dug-serr di jalan, akhirnya sampai juga di bandara jam 10.25! Baru masuk parkiran saya & Jason langsung pamit sama ortunya Jason yang nganterin kami. Begitu sampai tempat drop off kami berdua langsung lari sambil bawa gembolan ransel plus satu dus oleh2 untuk teman dan diri sendiri. Untungnya masih keburu untuk check in, malah sempat2nya wrapping dusnya segala. 
Sehabis check in kami langsung naik ke lantai atas menuju boarding room sambil melihat2 bandara baru. Kayanya emang lagi banyak bandara yang berbenah, terutama bandara2 yang mirip terminal kaya di Malang dan Bandung. Ga lama nunggu di boarding room, terdengar panggilan untuk masuk ke pesawat. Ternyata untuk naik ke pesawat kita harus keluar turun tangga dan jalan kaki ke pesawat. Lah, kirain karena boarding room-nya dilantai atas, kita bakal lewat garbarata/airbridge/belalai pesawat, ternyata masih manual jalan kaki. Jadi kesimpulannya udah naik harus turun lagi -__-"

Sampai di rumah, saya langsung diomelin Oddie & Sweety yang kelamaan ditinggal, plus rumah yang udah minta dibersihin. Si Jason juga dapet oleh2 penyakit DBD yang sukses bikin dia ga ngantor selama seminggu.
Jadi liburan kali ini cukup berkesan karena bisa jalan2 ke banyak tempat. Saya jadi inget waktu masih kecil, liburan bareng keluarga menempuh jarak jauh naik mobil. Dulu kan semacet2nya jalan masih manusiawi, ga macet gila2an kaya tol brexit menjelang Lebbaran. Selain itu saya juga menarik kesimpulan kalau yang namanya Jawa Timur, dimanapun itu, segala sesuatunya dipetis, mau rujak, kupat tahu, telur, kerang, semua pakai bumbu petis. Kalau ga terlalu doyan petis kaya saya sih...bye..

End.

Sunday, July 31, 2016

Roadshow Lebaran (Part 1)

Setelah melewati masa2 'puasa-ga-puasa-tetap-ga-produktif' di bulan Ramadhan kemarin, libur Lebaran yang lumayan panjang saya manfaatkan untuk mudik ke kota halamannya pasangan saya di Malang, Jason Statham, atau kita panggil aja Jason. Saya yang sebelumnya ga pernah ngerasain mudik, jadi kebawa excited juga walaupun harus rela nebus tiket yang harganya berkali2 lipat tiket ke Singapura. Padahal tiket ini saya beli jauh2 hari loh, tapi harga semua tiket udah naik minimal 2x lipat dari harga normal. Ga mau semakin makan hati dengan harga tiket yang mahal, saya memutuskan sekalian aja beli tiket Garuda untuk keberangkatan H-2, at least kalau naik Garuda, mahalnya worth it :p
Malam sebelum hari keberangkatan, seperti biasa saya ga bisa tidur karena terlalu excited. Alhasil saya baru berhasil tidur jam 1 malam, padahal saya naik penerbangan jam 8 pagi. Untungnya saya bisa siap tepat waktu sampai taksi pesanan datang. Malahan saya & Jason datang kepagian, jam 6 pagi udah nongkrong di bandara Soekarno Hatta saking semangatnya. Setelah cetak boarding pass, saya yang lapar dan haus curi2 kesempatan untuk beli minum, karena masih bulan puasa, jadinya saya ga enak juga kalau minum teh kemasan dingin terang2an :|
Setelah leyeh2 di ruang tunggu, akhirnya panggilan boarding diumumkan. Sebelum naik pesawat saya sempatin untuk ngambil koran. Maklum, kita yang biasa naik budget airlines langsung berusaha memaksimalkan semua fasilitas yang disediakan, termasuk makan roti kelapa yang dibagikan sebagai snack, walaupun sebenernya saya ga terlalu suka roti kelapa :))

Sampai di Malang yang pertama saya perhatiin adalah bandaranya. Bandara Abdurahman Saleh ini baru aja selesai dibangun. Bandara yang baru kelihatan lebih besar dan modern. Sayangnya bangunan baru di bandara ini baru bisa saya nikmati pulangnya nanti, karena untuk kedatangan masih pakai bangunan yang lama. Bangunan lama-nya sendiri mirip sama bangunan lama bandara Husein Sastranegara di Bandung dulu (sayangnya saya belum lihat bandara baru-nya), dimana kita baru masuk beberapa langkah udah keluar lagi saking kecilnya. Hehehe...
Dari bandara kami langsung menuju rumah untuk istirahat dan leyeh2. Hari kedua baru kami jalan2 sambil cari oleh2. Oleh2 khas Malang favorit saya adalah minuman sari apel. Minuman kemasan dari sari apel yang rasanya enak dan praktis untuk dibawa karena ukurannya yang kecil, sekitar 120ml, dan satu dus isinya bervariasi antara 18-20 kemasan. Kami berdua juga sempat penasaran sama makanan yang lagi booming, Strudel Apel, tapi setelah nyoba, entah kenapa kami malah lebih suka sama Apple Pie Frozen yang dijual di supermarket2 biasa. Selesai beli oleh2, kami beli makanan untuk buka puasa, katanya sih khas Pasuruan yang judulnya Kupang. Kupang ini sejenis makanan laut mirip kerang, dimakan bareng lontong dan pakai kuah petis, optional-nya ada sate kerang dan gorengan singkong. Kalau menurut saya makanan ini rasanya cukup eksotis, dan saya sih cukup nyoba beberapa sendok aja sebelum perut saya mulai terasa aneh :|

Hari pertama Lebaran saya ikut Jason & keluarganya Shalat Ied di lapangan Universitas Muhamadiyah Malang (UMM). Karena saya ga ikut Shalat, jadinya saya jalan2 keliling area kampus. Area kampus UMM ini luas banget, dan antara lapangan, tempat parkir, dan gedung kampus dipisahkan sama kolam luas yang mirip danau. Bener2 enak banget suasananya. Selain itu di pinggiran kolam disediakan perahu karet, jadi kayanya sih kita bisa berperahu-ria di kolam tersebut. Kalau iya, wah lengkap banget berarti fasilitas di kampus ini. Bikin iri aja deh! *padahal udah ga kuliah :p *

Kampus UMM melalui foto udara, diambil dari www.umm.ac.id


Selesai Shalat Ied, kami kembali ke rumah untuk bermaaf2an dan makan menu Lebaran. Menunya ada lontong, opor, sayur (yang biasa ada di kupat sayur), sama telur petis (telur rebus yang disiram bumbu petis). Lontong dan opor langsung jadi menu favorit saya selama Lebaran. Apalagi opornya pakai ayam kampung yang super empuk. Hmmm... Yummy :D . Setelah makan kami langsung siap2 untuk berangkat ke Surabaya. Perjalanan dari Malang ke Surabaya cukup lancar dan bisa ditempuh lewat tol. Saya yang duduk manis di kursi penumpang ga sanggup nahan godaan untuk tidur, dan baru bangun pas sampai di tempat tujuan, rumah salah satu saudaranya si Jason. Di rumah saudaranya ini kami disuguhi makan. Menu Lebarannya sih hampir sama dengan menu di rumah Malang, tapi yang beda disini ada pempek. Mungkin karena ada keturunan Palembang, pempek jadi salah satu makanan wajib di keluarga ini. Karena dari awal emang udah ngincar pempek-nya, jadi begitu ditawarin langsung kami sikat tanpa malu2. Hehehe... 
Di Surabaya kami mengunjungi beberapa rumah, dan di setiap rumah yang dikunjungi kami selalu disuguhi makan. Berhubung ga mungkin juga tiap bertamu kita makan, jadinya saya & Jason selalu nyoba dan ngebandingin kue putri salju yang ada di setiap rumah. Salah satu kue kering khas lebaran ini emang jadi favorit kami berdua. 

Selesai keliling di Surabaya, kami pulang ke Malang. Setelah ngedrop ortu-nya Jason, saya & Jason keluar lagi untuk jalan2 sambil cari kesempatan untuk ngeroko. Maklumlah di rumah ortunya ini kami berubah jadi anak baik2 dan berbakti kepada orang tua. Akhirya pilihan jatuh ke salah satu rumah makan khas Madura asal Malang (nah bingung kan?) yang nyediain menu Nasi Bhuk di sekitar Soekarno Hatta - Belimbing. Awalnya sih denger kata2 Madura saya agak pesimis karena ga pernah dengar makanan khasnya selain sate, tapi setelah dicoba, ternyata enak banget. Menunya berupa nasi, tambah sayur (pilihannya antara sayur nangka atau sayur rebung), tempe mendol, toge kecambah, serundeng, jeroan (pilihannya ada paru, lidah, babat), dan sambal. Walaupun khas Madura, tapi katanya sih asal Malang, cuma yang pertama kali mempopulerkan adalah orang Madura yang tinggal di Malang. Kalau saya sih udah pasti pilihnya lidah, tanpa sayur. Sedangkan Jason pilih menu lengkap dengan paru. Rasa lidahnya mantap banget, tebal tapi empuk, dan ga amis. Parunya juga crispy tapi ga keras. Trus ada tempe mendol yang agak crispy tapi enak. Sayang waktu itu saking laparnya saya ga kepikiran untuk foto dulu, tapi yang pasti menu ini recommended banget, terutama lidahnya untuk yang suka lidah. Si Jason aja yang ga terlalu doyan lidah mengakui kalau masakan lidahnya sedap :D

Lebaran hari kedua perjalanan roadshow kami dimulai lagi. Kali ini rute pertama adalah Probolinggo. Sayangnya perjalanan Malang - Probolinggo yang harusnya cuma ditempuh 3 jam aja ternyata macet dan waktu tempuhnya jadi 5 jam. Padahal si Jason udah meng-agung2-kan Jawa Timur yang katanya bebas macet, ga kaya Jawa Barat yang terkenal dengan kemacetan Nagrek, ternyata sama aja tuh. Huft...  Ga mau cape, saya sih tinggal tidur aja dan minta dibangunin pas udah di Pobolinggo. Hehehe :D . Di perjalanan kami sempat makan siang di RM Tongas Asri di daerah Tongas. RM ini semacam persinggahan di jalur utama Malang - Probolinggo, jadi penuh sama orang2 yang lagi melakukan perjalanan jarak jauh. Disini juga disediakan mushala dan toilet yang besar dan lumayan bersih. Lagi2 saya pesan menu lidah, kali ini semur lidah. Karena udah ngerasain enaknya menu lidah di Nasi Bhuk, semur lidah disini rasanya jadi kebanting. Tapi untuk saya tetep worth it sih, lidahnya empuk walaupun bumbunya biasa aja. Yang mau mampir sini jangan lupa bawa kipas, karena kalau lagi penuh gerahnya minta ampun, kipas angin yang nan-jauh di langit2 sama sekali ga kerasa. Oya, rumah makan ini katanya sih bukanya sering gantian sama RM Nguling (kalau dari arah Malang sebelum RM Tongas Asri). Kalau di RM Nguling yang recommended adalah rawonnya yang udah cukup terkenal rasanya. Waktu itu RM Nguling tutup, yang buka RM Tongas Asri. Setelah makan kami melanjutkan perjalanan. Saya yang tadinya sekedar terkantuk2 di jalan, setelah perut kenyang jadi ketiduran blas, bangun2 pas udah sampai di Probolinggo. Saking pulasnya saya tidur, pas bangun rasanya gigi saya kering semua. Kayanya selama tidur mulut saya mangap. Duh, moga2 aja saya ga ngorok, mengingat saya duduk di belakang barengan ortunya si Jason T^T .

Suasana di RM Tongas Asri, dari Tripadvisor.


Sampai di Probolinggo disempatin napak tilas, sambil diceritain sejarah keluarganya si Jason. Saya yang sebelumnya dari Malang dan biasa di Bandung di kota yang sejuk, nyampe sini lumayan keringetan juga. Untungnya saya udah siap pakai baju yang ga terlalu tebal biar ga kegerahan. Sampai di tempat tujuan pertama, di rumah salah satu saudaranya Jason, lagi2 kami disuguhi makanan. Karena udah makan sebelumnya, jadilah kami hanya nyicipin kue2 dan apel strudel yang terkenal itu. Mengingat udah sore dan masih ada tempat yang harus dikunjungi, setelah ngemil2 dan sedikit ngobrol (ngobrolnya sih banyak, cuma saya ngertinya sedikit karena kebanyakan pakai bahasa Jawa :| ) kami langsung cus menuju tempat tujuan berikutnya, yaitu Lumajang, sebuah Kabupaten yang selama ini cuma saya dengar namanya aja.
Sayangnya lagi2 perjalanan ke Lumajang ini agak macet karena kombinasi jalan yang menyempit di lintasan rel kereta api dan volume kendaraan yang lumayan tinggi. Sampai di Lumajang langsung lanjut napak tilas sejarah kerjanya si Jason yang dimulai sebagai recruiter di salah satu pabrik kayu terbesar di Lumajang, termasuk liat kost2annya yang ternyata jauh lebih bagus dari yang diceritakan. Katanya sih Lumajang ini ga banyak perubahan yang berarti. Mungkin karena daerahnya yang kurang strategis, jadinya malah kurang berkembang. Setelah keliling2 sedikit sambil cerita, akhirnya kami sampai di rumah saudaranya Jason yang lain yang jadi tujuan berikutnya. Kami singgah disini ga lama sih, cuma salam2an, numpang ke toilet, makan baso, trus pulang. Karena udah malam juga, dan kami masih harus lanjut ke Jember, jadi ada alasanlah untuk SMP (sudah makan pulang) :p

To be continued...